Solusi Kerusakan Jalur Touch Screen Xiaomi Redmi Note 8 Pro

Table of Contents

Kerusakan touch screen pada ponsel sering kali dianggap sebagai masalah sederhana. Banyak orang langsung berasumsi bahwa solusi terbaik adalah mengganti LCD atau melakukan flashing ulang sistem. Namun, pada beberapa kasus tertentu, kerusakan touch screen justru menyimpan masalah yang jauh lebih kompleks, terutama ketika berkaitan langsung dengan jalur data menuju CPU. Salah satu contoh kasus yang cukup menantang terjadi pada Xiaomi Redmi Note 8 Pro dengan kondisi touch screen benar-benar tidak merespons.

Perangkat ini datang dengan cerita panjang. Touch screen sudah tidak berfungsi sejak awal, dan berbagai upaya standar telah dilakukan sebelum sampai ke meja servis. Flash ulang sistem sudah dicoba, bahkan penggantian LCD dilakukan beberapa kali dengan unit berbeda. Hasilnya tetap sama. Layar menyala normal, tampilan muncul sempurna, namun sentuhan sama sekali tidak terbaca. Kondisi seperti ini sering membuat teknisi mulai curiga ke arah kerusakan CPU, yang tentu saja menjadi momok tersendiri karena tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi.

Pemeriksaan Awal dan Analisis Gejala

Langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan kembali gejala kerusakan. Perangkat dinyalakan hingga masuk ke menu utama. Benar saja, sentuhan sama sekali tidak berfungsi. Tidak ada perbedaan meskipun sistem sudah bersih hasil flashing. Ini menjadi indikator awal bahwa masalah bukan berasal dari software maupun panel LCD.

Sebelum melangkah terlalu jauh dengan asumsi CPU rusak, pendekatan yang lebih aman adalah melakukan pengecekan jalur terlebih dahulu. Dalam dunia servis, CPU jarang benar-benar rusak secara internal. Lebih sering, masalah terjadi pada jalur data atau kaki-kaki yang tidak terhubung sempurna akibat benturan, korosi, atau pengerjaan sebelumnya.

Dengan membuka skema andalan, yaitu Borneo Schematics untuk Redmi Note 8 Pro, fokus langsung diarahkan ke bagian touchscreen. Skema ini sangat membantu untuk mengetahui jalur mana saja yang berperan dalam komunikasi antara touchscreen dan CPU, terutama pada chipset MT6785 yang digunakan perangkat ini.

Temuan Awal pada Jalur Touchscreen

Setelah membuka mesin, terlihat bahwa konektor touchscreen sudah pernah dikerik. Ini menandakan adanya riwayat pengerjaan sebelumnya. Kondisi seperti ini sering menjadi petunjuk awal bahwa jalur kemungkinan sudah terganggu.

Pengukuran dilakukan menggunakan AVO meter untuk mengecek resistansi setiap jalur touchscreen. Dari hasil pengukuran, ditemukan bahwa dua jalur utama tidak menunjukkan resistansi sama sekali. Jalur tersebut adalah GP10_CTP_RSTB dan EINT_CTP. Sementara itu, empat jalur lainnya masih menunjukkan nilai resistansi yang normal.

Hal menarik lainnya adalah jalur GP10_CTP_RSTB dan EINT_CTP ini langsung masuk ke CPU tanpa melewati filter atau resistor terlebih dahulu. Berbeda dengan empat jalur lain yang masih memiliki test point sebelum menuju CPU. Kondisi ini membuat proses penelusuran jalur menjadi lebih sulit karena tidak ada titik antara yang bisa dijadikan referensi.

Pada tahap ini, sudah semakin jelas bahwa masalah besar berada di area CPU. Namun, alih-alih langsung memvonis CPU rusak, keputusan diambil untuk mengangkat CPU dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Proses Pengangkatan CPU dan Tantangan Awal

Pengangkatan CPU dilakukan dengan sangat hati-hati. Suhu disetel di sekitar 360 derajat dengan aliran angin kecil. Proses dilakukan perlahan tanpa paksaan, karena kesalahan kecil bisa berujung pada kerusakan fatal pada PCB.

Setelah CPU berhasil diangkat, tahap berikutnya adalah membersihkan area pad dan kaki CPU. Rencana awal adalah melakukan cetak ulang bola timah. Namun muncul kendala klasik: cetakan khusus untuk MT6785 tidak tersedia. Kondisi ini sering terjadi di lapangan dan menuntut improvisasi.

Solusi yang diambil adalah menggunakan plat universal dengan alas tisu dan karet silikon anti panas agar tekanan merata. Metode ini memang tidak ideal, tetapi cukup sering digunakan oleh teknisi yang sudah terbiasa menangani kondisi darurat.

Setelah proses cetak ulang selesai, CPU dipasang kembali ke papan. Namun, saat diuji, perangkat justru tidak mau menyala. Ini menjadi momen yang cukup menegangkan karena ada kemungkinan CPU tidak duduk sempurna atau terjadi masalah pada bola timah.

Pemanasan ulang dilakukan dengan sedikit tekanan dan gerakan halus. Setelah itu, perangkat kembali bisa menyala. Sayangnya, touch screen masih tetap tidak berfungsi meskipun reball sudah dilakukan hingga dua kali. Pada titik ini, reball CPU jelas bukan solusi utama.

Mencari Jalur Alternatif dengan Metode Jumper

Karena jalur GP10_CTP_RSTB dan EINT_CTP tidak menunjukkan resistansi, langkah berikutnya adalah membuat jalur alternatif. Metode jumper sering menjadi penyelamat pada kasus seperti ini, terutama ketika jalur internal PCB sudah putus dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki secara langsung.

Jalur diambil langsung dari kolom keluar CPU, kemudian dibuatkan jumper manual. Setelah CPU kembali dipasang, pengukuran resistansi dilakukan ulang. Hasilnya cukup melegakan. Kedua jalur yang sebelumnya mati kini sudah menunjukkan resistansi di angka sekitar 0.435. Ini menjadi tanda bahwa jalur alternatif sudah tersambung dengan baik.

Langkah selanjutnya adalah menarik jumper lanjutan menuju test point jalur di konektor LCD touchscreen. Metode yang digunakan adalah jumper tali jemuran, karena fleksibel dan mudah dibentuk mengikuti jalur PCB.

Setelah jumper terpasang, pengukuran kembali dilakukan. Hasilnya menunjukkan jalur sudah tersambung sempurna hingga ke konektor. Dengan penuh harapan, perangkat kembali dinyalakan. Namun hasilnya masih nihil. Touch screen tetap tidak merespons.

Kesalahan Kecil yang Hampir Fatal

Di titik ini, emosi mulai diuji. Proses panjang sudah dilakukan, jalur sudah tersambung, resistansi normal, tetapi hasil belum sesuai harapan. Keputusan terbaik adalah berhenti sejenak. Istirahat, ngopi, dan menarik sebatang rokok sering kali justru membantu teknisi melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Setelah kembali ke meja kerja, dilakukan pengecekan ulang terhadap jumper yang sudah dibuat. Di sinilah ditemukan kesalahan yang nyaris fatal. Ternyata jumper terpasang tertukar atau terbalik antara dua jalur. Kesalahan kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Untungnya, kondisi ini belum sampai menyebabkan CPU short atau mati total.

Jumper segera dipindahkan ke posisi yang benar sesuai skema. Semua jalur dicek ulang untuk memastikan tidak ada short maupun sambungan lemah.

Akhir yang Manis Setelah Perjalanan Panjang

Dengan penuh harap, perangkat kembali dinyalakan. Kali ini, saat masuk ke menu utama, touch screen langsung merespons dengan normal. Sentuhan terbaca dengan baik, tidak ada lag, dan semua fungsi berjalan sebagaimana mestinya.

Perasaan lega dan puas langsung terasa. Perjalanan panjang, penuh tawa, kesalahan, dan tantangan akhirnya terbayar lunas. Kasus ini sekali lagi membuktikan bahwa kerusakan touch screen tidak selalu berkaitan dengan LCD atau software. Jalur data yang bermasalah, terutama yang langsung menuju CPU, sering kali menjadi penyebab utama.

Pelajaran Penting dari Kasus Ini

Kasus Xiaomi Redmi Note 8 Pro ini memberikan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah pentingnya pengecekan jalur sebelum menyimpulkan kerusakan CPU. Reball bukan solusi ajaib untuk semua masalah, dan jumper jalur sering kali menjadi jalan keluar yang lebih efektif.

Kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk mengecek ulang pekerjaan sendiri juga menjadi kunci. Kesalahan kecil seperti posisi jumper yang tertukar bisa menggagalkan seluruh proses. Namun di sisi lain, kesalahan tersebut juga menjadi bagian dari proses belajar sebagai teknisi.

Akhir kata, setiap perangkat yang datang membawa masalahnya sendiri, dan setiap masalah selalu punya jalan keluar selama mau berpikir, mencoba, dan tidak menyerah. Semoga pengalaman ini bisa menjadi referensi dan bermanfaat bagi teknisi lain yang menghadapi kasus serupa.

Post a Comment